Kabarsiar, Banjarbaru – Persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan di kawasan permukiman berhasil diubah menjadi sumber manfaat oleh warga Kelurahan Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru. Melalui Program MARKISSA (Mari Kita Sedekah Sampah), sampah bernilai ekonomis disulap menjadi bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Keberhasilan program tersebut diperingati dalam acara satu tahun MARKISSA yang digelar di Gedung Serba Guna RW 007, Kelurahan Syamsudin Noor, Selasa (16/6/2026). Program berbasis partisipasi masyarakat itu menjadi contoh pengelolaan sampah yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial secara langsung.
Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, mengapresiasi inisiatif warga yang mampu menghadirkan solusi lingkungan sekaligus memperkuat kepedulian sosial melalui pengelolaan sampah.
Menurutnya, MARKISSA membuktikan bahwa pemilahan sampah dapat memberikan nilai tambah ekonomi yang hasilnya kembali dimanfaatkan untuk membantu masyarakat kurang mampu.
“Kelurahan Syamsudin Noor luar biasa karena mampu menginisiasi pemilahan sampah yang bernilai ekonomis. Hasil penjualannya dikembalikan lagi kepada masyarakat yang membutuhkan. Mudah-mudahan program seperti ini dapat tumbuh di kelurahan-kelurahan lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program tersebut bukan hanya tentang menjaga kebersihan lingkungan, melainkan juga menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang tumbuh dari masyarakat.
Sementara itu, Ketua RT 33 Kelurahan Syamsudin Noor sekaligus penggagas MARKISSA, Yoni Setiawan, menjelaskan program tersebut lahir dari keinginan warga untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar.
Menurutnya, perjalanan program selama satu tahun tidak selalu mudah. Pada masa awal, volume sampah yang berhasil dikumpulkan hanya sekitar 190 kilogram per bulan. Namun berkat konsistensi warga dan dukungan berbagai pihak, termasuk melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), pengelolaan sampah terus berkembang.
“Hingga satu tahun berjalan, dana yang berhasil dihimpun dari pengelolaan sampah sudah mencapai sekitar Rp8 juta. Hasilnya langsung kami salurkan kepada warga yang membutuhkan,” katanya.
Dari hasil pengelolaan tersebut, sedikitnya 50 warga telah menerima manfaat. Pada peringatan satu tahun MARKISSA, pengelola juga menyalurkan bantuan berupa gas elpiji isi ulang 3 kilogram kepada 40 penerima manfaat.
Tidak hanya mengelola sampah nonorganik, warga juga mengembangkan program pengolahan sampah organik melalui inovasi SUSTER SANTI (Sumur KompoSTER SANiTasi) yang diluncurkan sejak 25 Maret 2026.
Program tersebut menjadi solusi pengelolaan sampah organik rumah tangga agar lingkungan tetap bersih, sehat, dan bebas bau. Sampah organik yang terkumpul selanjutnya diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Keberhasilan MARKISSA menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan mulai dari lingkungan terkecil apabila didukung kesadaran dan partisipasi warga. Lebih dari sekadar menjaga kebersihan, program ini membuktikan bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat menjadi berkah yang membantu sesama.


