Kabarsiar, Aceh – Revitalisasi pascabanjir di muara Sungai Kuala Peunaga, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai dikerjakan melalui proyek pengerukan untuk mengatasi pendangkalan yang menghambat aktivitas nelayan. Program tersebut digerakkan Jhonlin Group sebagai bentuk kepedulian terhadap pemulihan lingkungan dan kemanusiaan setelah banjir besar membawa material sedimen hingga menutup akses muara ke laut.
Perwakilan Jhonlin Group, Vendi Umar, mengatakan tim tiba di kawasan muara Kuala Peunaga pada 26 Januari dan langsung memasang pipa dredging keesokan harinya meski kondisi gelombang laut cukup tinggi. Ia menjelaskan pendangkalan terjadi akibat penumpukan sedimen pascabanjir yang menyeret material dari hulu hingga ke pertemuan sungai dan laut. Dampaknya, nelayan kesulitan melaut dan harus menunggu pasang air agar perahu dapat keluar masuk muara.
Menurutnya, tujuan utama proyek tersebut adalah memulihkan kedalaman muara agar masyarakat pesisir dapat kembali beraktivitas secara normal tanpa bergantung pada pasang surut air. Normalisasi muara diharapkan memperlancar aktivitas melaut, meningkatkan hasil tangkapan, serta mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat Aceh Tamiang pascabencana.
Manager Operasional PT Dua Samudra Perkasa, Aris Setiawan, menjelaskan pengerukan akan dilakukan sepanjang lima kilometer dengan target kedalaman enam meter. Secara operasional, proyek ini menggunakan pipa sepanjang 1.500 meter. Setelah pengerukan mencapai satu kilometer, pembuangan material sedimen akan dialihkan ke tanggul disposal darat sepanjang lima kilometer yang telah disiapkan Tim Satgas Solidarity for Humanity Jhonlin Group.
Proyek dredging tersebut diproyeksikan berjalan secara bertahap selama sekitar satu setengah tahun. Selain mengembalikan fungsi muara sebagai jalur keluar masuk kapal nelayan, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan kawasan pesisir dari dampak sedimentasi berulang di masa mendatang.


